Hijau Alam Hijau memberikan pelajaran yang berharga maka kita dapat menciptakan Teknologi.

Masa Bercocok Tanam

4 min read

Masa Bercocok Tanam

Masa Bercocok Tanam – Pada pembahasan kali ini kita akan mengulas materi mengenai Masa Bercocok Tanam yang dibahas mulai dari Pengertian, Ciri, Corak, Jenis dan Pendukung. Maka untuk melengkapi apa yang menjadi tema pembahasan kali ini, maka simak pembahasan berikut dibawah ini.

Pengertian Masa Bercocok Tanam

Masa Bercocok Tanam

Masa bercocok tanam adalah suatu masa yang dimana ketika itu manusia mulai bisa berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan itu mereka memanfaatkan hutan yang belukar untuk dijadikan kebun.

Terjadinya Masa bercocok tanam dimana ketika itu mereka mulai meninggalkan hidup berburu dan mulai mengumpulkan makanan. Dan yang dapat ditinggalkan dan kehidupan merekapun telah mulai menetap pada suatu tempat.

Jadi, dalam masa perkasa itu jenis manusia yang hidup dimasa bercocok tanam yaitu jenis manusia purba yang dikenal dengan homo sapiens. Jadi baik itu dari golongan ( mongoloid) maupun golongan( austromelanesoid).

Corak Kehidupan Manusia Purba Pada Masa Bercocok Tanam

Selain bercocok tanam, manusia purba pun juga beternak hampir semua jenis hewan ternak mereka ternak seperti kerbau, sapi, kambing, ayam, kuda dan anjing. Masa bercocok tanam dan beternak itu bisa diperkirakan terjadi pada zaman Mesolitikum.

Padahal jenis manusia purba tersebut yang hidup pada masa itu yaitu (homo sapiens) yang asalnya dari rumpun melayu. Ketika pada masa bercocok tanam itu posisi hutan yang belukar bisa dimanfaatkan.

Maka dijadikannya sebuah ladang dengan menanam tanaman seperti sayur mayur, ubi, padi, sukun, nangka, ketela, pisang dan kedelai. Dengan berjalannya waktu sampai tanah sekitar pun tidak bisa ditanami lagi hingga manusia purba tersebut.

Mengharuskan berpindah mencari tanah yang jauh lebih subur. Sistem berlandang dan berternak secara berpindah ini bisa disebut juga bergumah. Kegiatan seperti hal ini masih sering dijumpai di Indonesia seperti wilayah pedalaman kalimantan dan papua.

Baca Juga : Kebudayaan Ngandong

Manusia Pendukung Pada Masa Bercocok Tanam

Masa Bercocok Tanam

Pada manusia purba yang berjenis (Pithecanthropus Erectus) bisa dikategorikan adalah antara manusia dan kera. Selain didasarkan pada besarnya otak, juga didasarkan oleh ciri fisik yang lain.

Tulang keningnya yang sangat lebih menonjol ke muka dan di atas bagian hidung menempel menjadi satu. Di atas tulang kening tulang dahinya itu terlihat licin ke arah belakang.

Maka dapat dikatakan dahinya tidak ada. Penemuan manusia purba yang berjenis (Pithecanthropus Erectus) mendorong penemuan-penemuan yang lain.

Homo Mojokertensis

Jadi pada pertama kali fosil yang berjenis seperti (mojokertensis) ini ditemukan pertama kali oleh (Von Koenigswald) ditahun 1936 yang memiliki bentuk tengkorak kanak-kanak dekat Mojokerto.

Dari gigi-giginya itu bisa diperkirakan masih kanak-kanak dikarenakan gigi itu yang telah di teliti belum melewati umur lima tahun. Makhluk ini dinamakan Homo Mojokertensis.

  • Mempunyai tubuh yang tegap dan keker
  • Mempunyai badan yang tingi dari 165 cm sampai 180 cm
  • Mempunyai tulang raham besar dan gigi graham yang kokoh
  • Mempunyai bagian kening yang menonjol ke arah muka
  • Tidak mempunyai dagu, sama seperti meganthropus
  • Mempunyai atas tulang tengkorak yang sangat tebal dan melonjong
  • Mempunyai alat pengunyah dan memakan segalanya
  • Otot tengkuk yang dominan kecil
  • fungsi otak tidak sempurna seperti halnya terlihat pada jenis homo, yakni sekitar 1. 300 cc volume otak.

Meganthropus Paleojavanicus

Lalu pada tahun 1941, disuatu daerah yang diketahui dengan sebuatan Sangiran. Lembah Sungai Bengawan Solo (Von Koenigswald) menemukan bagian tulang rahang bawah yang lebih besar dan kokoh daripada rahang Pithecanthropus Erectus.

Selanjutnya Von Koenigswald menyampaikan bahwa makhluk yang baru ditemukan tersebut lebih tua daripada (Pithecanthropus Erectus ) mana pun. Mengingatnya bentuk badannya yang sangat besar, makhluk itu diberi nama Meganthropus Paleojavanicus.

  • Memiliki tinggi badan sekitar 165 cm hinga180 cm
  • Memiliki postur tubuh yang tegap dan keker
  • Memiliki volume otak 900 cc
  • Tonjolan pada bagian pada kening lebih tebal dan melintang sempai bawah pelipisnya
  • Tidak Memiliki dagu dan hidung yang lebar
  • Memiliki gigi, dan rahang yang kuat dan besar
  • Makananannya jenis tumbuhan dan buah – buahan

Homo Soloensis

Jenis specis ini adanya dekat daerah Ngandong yang tepatnya kawasan lembah Bengawan Solo, Kabupaten Blora. Dimana telah ditemukan berapa macam fosil tengkorak oleh Von Koenigswald.

Yang seperti yang telah diketahui bahwa makhluk tersebut lebih tinggi tingkatannya daripada( Pithecanthropus Erectus). Bahkan sudah dapat dikatakan sebagai manusia.

Sehingga, fosil-fosil tersebut dinamakan (Homo Soloensis) manusia dari Solo.

  • Memiliki tinggi badan 165cm sampai180 cm.
  • Memiliki Badan yang tegap, tapi tidak setegap Meganthrophus.
  • Memiliki daya Volume otak berkisar 750cm sampai 1350 cc.
  • Memiliki Tonjolan kening yang tebal dan melintang sampai bawah pelipis.
  • Memiliki Hidung lebar dan tidak memiliki dagu.
  • Memiliki rahang kuat dan geraham yang besar.
  • Makanan berupa tumbuhan dan daging dagingan.

Baca Juga : Pithecanthropus Robustus

Sistem Kepercayaan Pada Masa Bercocok Tanam

Pada masa ini manusia purba pun sudah bisa mengenal sistem kepercayaan. Sistem kepercayaan inilah, manusia purba tersebut ketika itu dibagi menjadi dua kepercayaan yaitu kepercayaan (animisme) dan kepercayaan (dinamisme).

1. Bidang kepercayaan

Untuk ciri – Ciri dalam masa bercocok tanam food producing antara lain sebagai berikut.

  • Kepercayaan para masyarakat pada ketika bisa diwujudkan dalam berbagai upacara tradisi dan upacara penguburan mayat yang dibekali dengan benda benda yang mereka miliki kekuburanya.
  • Adanya kepala suku yang memiliki kekuasaan serta tanggung jawab penuh terhadap kelompok – kelompok sukunya.
  • Wujud dari kepercayaan tersebut terlihat dari hasilnya bangunan bangunan megah.

2. Bidang Social

  • Jumlah anggota kelompoknya semakin lama semakin banyak sehingga dibuat berkelompok dalam satu kapung tersebut.
  • Manusia telah mendapatkan dan menguasai alam lingkungan.
  • Hidup yang menetap adalah awalnya perkembangan kehidupan manusia

3. Bidang ekonomi

Untuk ciri kehidupan ekonomia. system perdagangan pada masa itu semakin berkembang seiringnya waktu dengan semakin berkembangnya kehidupan masyarakat.

Bangunan yang memperlancar ekonomi diperlukan tempat khusus bagi pertemuan antara pedagang dan pembeli yang pada perkembangannya disebut dengan kata pasar.

Maka mereka pun sudah mengenal system tukar – menukar. Hubungan antara masyarakat semakin erat dan baik dilingkungan daerah tersebut maupun diluar daerah.

4. Bidang Budaya

  • Untuk hasil yang ditinggalkan oleh kebudayaan oleh manusia purba pada masa bercocok tanam semakin mengalami peningkatan dan bentuknya pun sangat beragam. Baik yang terbuat dari tanah liat, batu, maupun tulang.
  • Hasil kebudayaan pada masa bercocok tanam, antara lain beliung persegi, kapak lonjong, dan gerabah.
  • Hasil Budaya yang mereka buat mengalami perkembangan yang sangat tajam, diiringi dengan meningkatnya perkembangan otak manusianya. Dimana mereka sudah mampu membuat beraneka ragam kebudayaan yang lebih baik dari sebelumnya.

5. Bidang Teknologi

Pada masa bercocok tanam memiliki waktu luang yang panjang, adalah masa penantian dari musim tanam sampai panen.

Maka mengerakan manusia mengembangkan akalnya menciptakan teknologi – teknologi agar dapat memajukan kehidupannya.

Adapun teknik yang dikenal sebagai berikut.

  • Teknik tangan
  • Teknik pukulan
  • Teknik goresan
  • Teknik roda berputar
  • Teknik tatap batu.

Baca Juga : Kebudayaan Pacitan

Alat alat Peninggalan Masa Bercocok Tanam

Beliung persegi

Peralatan batu ini memang begitu sangat menonjol dari masa bercocok tanam. Bentuknya sangat mirip seperti cangkul, tetapi tidak sebesar cangkul zaman sekarang.

Fungsinya bisa digunakan untuk mengolah kayu, seperti halnya untuk membuat rumah dan perahu. Beliung persegi itu bisa ditemukan hampir di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.

Yaitu nusa tenggara, sumatra, Jawa, Sulawesi, Adapun penemuan – penemuan diluar wilayah Indonesia adalah di Semenanjung Melayu . Beliung persegi terbuat dari batu api.

Kapak lonjong

Kapak lonjong terbuat dari batu kali yang warnanya kehitam – hitaman. Kapak lonjong itu bisa dibuat dari jenis batu nefrit yang berwarna hijau lumut yang bisa diperoleh dari gumpalan batu yang diserpih atau bisa diperoleh dari kerakal yang sudah sesuai bentuknya.

Setelah permukaan batu tersebut diratakan, kemudian diasah hingga sangat halus. Kapak lonjong yang kecil fungsinya sebagai simbol atau benda wasiat.

Kapak lonjong yang besar fungsinya untuk cangkul maka dapat menggarap ladang dan sebagai kapak biasa. Kapak-kapak lonjong untuk keperluan upacara tertentu saja.

Gerabah

Ketika berlangsungnya kehidupan manusia purba dizaman bercocok tanam. Dimana ketika itu masih jarang pembuatan gerabah tetapi bergulirnya waktu. Bahkan hingga sampai saat kini mengalami kemajuan yang pesat maka ragamnya pun dapat bertambah banyak.

Gerabah ini terbuat dari tanah liat yang di panasi oleh api. Gerabah tersebut fungsinya bisa digunakan untuk keperluan rumah tangga sehari-hari.

Misalnya saja : sebagai wadah tempat air, alat untuk masak , untuk menyimpan perhiasan dan aksesoris lainnya. Hal tersebut untuk upacara keamanan dan ritual, misalnya tempayan dan sebagai bekal dalam kubur.

Demikian materi pembahasan kali ini mengenai masa bercocok tenam, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda semua. Terima Kasih

Hijau
Hijau Alam Hijau memberikan pelajaran yang berharga maka kita dapat menciptakan Teknologi.

Pithecanthropus Soloensis

Hijau Hijau
2 min read

Masa Perundagian

Hijau Hijau
3 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close